BeritaSalatiga.com – Sebuah video komplain mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri Dukuh 05 mendadak beredar luas di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan kepala sekolah menyampaikan keberatan atas kualitas salah satu menu. Namun di balik riuhnya perbincangan publik, pihak sekolah menyebut komunikasi dengan penyedia sesungguhnya telah berlangsung jauh sebelumnya.
Kepala SD Negeri Dukuh 05, Jumarti, mengatakan selama pelaksanaan MBG pihaknya telah sekitar enam kali menyampaikan komplain. Keluhan mencakup kekurangan susu, porsi nasi yang dinilai kurang, hingga persoalan kualitas buah.
“Untuk komplain, sebetulnya ya ada beberapa yang namanya manusia ya mas. Wong masak itu kan pasti ada yang kurang uyah (garam – red), kurang apa itu sudah biasa. Saya juga komplain langsung, ‘Mbak ini kurang ini’, nanti besoknya sudah diperbaiki,” ujar Jumarti, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, setiap keluhan langsung ditindaklanjuti. Jika ada kekurangan, penyedia segera mengirim tambahan pada hari yang sama.
“Misalnya kurang nasi, nanti saya telepon, mereka ngirim. Respon cepat sekali,” katanya.
Video yang kemudian viral itu, kata Jumarti, direkam saat ia menyampaikan komplain terkait beberapa buah yang dinilai kurang bagus. Ia menegaskan rekaman tersebut bukan dibuat untuk konsumsi publik, melainkan sebagai dokumentasi internal.
“Memang saya videokan. Tujuan saya, video ini saya simpan, suatu saat kalau saya komplain lagi pakai video supaya mereka ingat komplain saya,” tuturnya.
Ia mengaku terkejut ketika mengetahui rekaman tersebut tersebar. Menurutnya, video semula disimpan dan tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan.
“Saya kaget, kenapa dan siapa yang memviralkan. Video itu dari saya tahan. Saya kumpulkan guru-guru, tapi tidak ada yang mengaku. Saya tidak akan memperpanjang masalah,” ujarnya.
Sebagai kepala sekolah, Jumarti menyatakan tanggung jawabnya adalah memastikan makanan yang dikonsumsi siswa layak dan aman.
“Ini SD loh mas. Jadi kalau ada yang kurang, ya saya langsung komplain,” katanya.
Di sisi lain, Ketua SPPG wilayah Sawahan, Sarah Alfi Maiza, memastikan evaluasi telah dilakukan sejak hari kejadian. Ia menyebut pihaknya datang ke sekolah pada pukul 13.00 WIB bersama yayasan untuk klarifikasi dan meminta maaf.
Sarah mengakui terdapat 8–10 buah yang busuk dan lolos dari proses penyortiran. Menurut dia, hal itu terjadi karena buah bertumpuk saat pemorsian sehingga ada yang tidak terdeteksi.
“Kami melakukan pengecekan yang teliti pada setiap buah yang akan kami berikan. Dilakukan penyortiran ulang sebanyak tiga kali, mulai dari racik, masak, lalu pemorsian,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbaikan menu dilakukan sesuai arahan pusat dengan komposisi karbohidrat, protein, dan buah. Perbaikan juga diterapkan merata di seluruh sekolah yang dilayani, tidak hanya di SD Negeri Dukuh 05.
SPPG wilayah Sawahan saat ini melayani 3.284 penerima manfaat di 20 sekolah, mulai dari PAUD hingga SMK. Di SD Negeri Dukuh 05, jumlah penerima manfaat tercatat 158 siswa.
Baik pihak sekolah maupun penyedia menyatakan hubungan komunikasi tetap berjalan baik. Jumarti bahkan menyebut setelah perbaikan dilakukan, kualitas makanan dinilai lebih baik dan mendapat apresiasi dari orang tua.
“Kami mengucapkan terima kasih dan mohon maaf jika video ini sampai tersebar ke mana-mana, yang itu tidak kami kehendaki,” ujarnya.
Di tengah sorotan publik, polemik ini menjadi pengingat bahwa pengawasan dan evaluasi dalam program layanan publik membutuhkan keterbukaan sekaligus komunikasi yang terjaga.(B2)






